Minggu, 22 Agustus 2010

WASPADAI BAHAYA TRAFFICKING DI SEKITAR KITA

Tahukah Anda, trafficking tidak hanya muncul di saat kondisi di sebuah daerah aman tenteram. Namun, paska-bencana juga berpotensi terjadi trafficking. Ini terjadi di Aceh paska-tsunami.

Kita tahu, tsunami terjadi pada 26 Desember 2004.Ribuan orang meninggal. Banyak suami yang kehilangan istri, begitu pula sebaliknya. Anak-anak menjadi korban dan banyak yang kehilangan orangtua mereka.Warga yang selamat tinggal di tenda-tenda pengungsian. Kondisi itulah yang rawan terjadinya trafficking.

Berikut ini saya perlihatkan sebuah komik berjudul Waspadai Bahaya Trafficking di Sekitar Kita. Komik ini diterbitkan oleh Koalisi Perempuan Indonesia pada April 2005, yang bekerjasama dengan International Organization for Migration (IOM) dan From the People of Japan sebagai sosialisasi pemahaman trafficking paska tsunami Aceh.

Lalu apa maksud saya menampilkan komik ini? Bukankah tsunami Aceh sudah lama terjadi dan sudah tidak ada lagi tenda-tenda pengungsian? Betul! Namun, komik ini sekadar mengingatkan kita agar mewaspadai bahaya trafficking paska bencana, bukan cuma di Aceh, tetapi bisa dimana saja, di seluruh Indonesia yang rawan bencana ini.

Selamat membaca!





















Sabtu, 21 Agustus 2010

AYU: INSPIRASI ANAK INDONESIA

Betapa senang hati saya begitu membaca berita di harian Suara Merdeka, Jawa Tengah edisi 20 Agustus 2010. Koran ini saya baca pas berada di atas kereta Agro Muria yang membawa saya pulang ke Jakarta. Di suplemen Semarang Metro halaman D di koran Suara Merdeka, ada berita tentang Ayu Septiayana (11). Sambil tersenyum, ia difoto dengan menunjukan trofi dan piagam.

Siapa itu Ayu Septiayana? Pasti Anda bingung dan bertanya-tanya: mengapa saya begitu bahagia?

Barangkali Anda belum lupa cerita Hughes ketika sempat melatih teman-teman cilik di hotel Tropical, Jakarta Barat beberapa waktu lalu. Belum baca? Silahkan klik kisah saya tentang itu. Nah, saat itu saya melatih tujuh anak dalam rangka menseleksi seorang anak menjadi Kid Reporter Danone 2010. Seorang Kid Reporter yang dipilih ini nantinya akan diberangkatkan ke Afrika.




Sebelum diseleksi dan ditraining oleh saya soal pengetahuan public speaking-nya, calon Kid Reporter harus mengikuti berbagai tahapan seleksi. Ada ribuan peserta yang ikut dari berbagai pelosok Indonesia. Salah satu peserta ya Ayu itu.

Sungguh, Ayu bisa menjadi inspirasi bagi anak Indonesia. Kenapa? Dengan latar belakang keluarga yang tidak cukup kaya, ia berhasil mengalahkan anak-anak lain yang stratanya jauh di atas dirinya. Ini berkat kepercayaan diri Ayu yang luar biasa. Bayangkan! Ayahnya Heri Priyanto (50) berprofesi sebagai sopir taksi. Sedangkan ibunya Ananingsih (50) adalah ibu rumah tangga.

Baik pak Heri dan ibu Ningsih juga merupakan orangtua tauladan. Sebab, mereka tidak mengajarkan Ayu sebagai anak yang rendah diri, karena latar belakang keluarga. Ayu justru dididik menjadi cukup percaya diri, tetapi tetap rendah hati. Tak heran kalo kemudian pimpinan sanggar Edutainment TV (E-TV) Kholiq Puspito tidak lama mengasah Ayu menjadi presenter. Pria ini mempercayakan siswi SD Negeri Kartini 02 Semarang kelas 6 ini menjadi presenter acara Taman Beraksi Kita (Takita) di TVRI yang ditayangkan setiap Jumat pukul 15.30 wib. Selain acara Takita, Ayu juga sempat membintangi Film Televisi (FTV) episode Bayang-Bayang Putri dan beberapa reality show. Hebat ya?



Lewat pak Kholiq, Ayu dan anak-anak didik lain di E-TV didaftarkan ke ajang Kid Reporter Danone. Audisi tingkat Jawa Tengah (Jateng) berlangsung pada 6 Juli 2010 di Stadion Citarum. Dari audisi itu, Ayu berhasil mewakili kota Semarang untuk bergabung dengan teman-teman lain yang berhasil mewakili Makassar, Medan, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.

Pada 20 September besok, tepatnya setelah Idul Fitri, Ayu akan terbang ke Johannesberg, Afrika. Di kota itu, ia menjadi reporter cilik yang meliput kejuaraan sepakbola anak-anak Danone Nations Club 2010. Selain kejuaraan sepakbola tersebut, Ayu juga berkesempatan mewawancarai legenda sepakbola Perancis Zinedine Zidane.

Selamat buat Ayu!

Selasa, 17 Agustus 2010

SAY NO TO TRANSIT TKI

Tahukah Anda banyak "kedok" perdagangan manusia terutama kaum perempuan dengan modus TKI? Biasanya para agen menawarkan jasa sebagai penyalur tenaga kerja di Malaysia, eh tidak tahunya ketika sampai di negeri jiran itu, kaum perempuan kita dijadikan pelacur.

Ironis memang. Sudah tujuh tahun berkecimpung sebagai Duta Trafficking Nasional, pengalaman membuat saya tumbuh menjadi dewasa dalam menangani kasus-kasus perdagangan manusia yang berkedok TKI. Bahkan ada modus operandi baru, yakni umroh.

Modus baru ini termasuk modus perdagangan manusia jaringan internasional. Ngakunya agen umroh, eh ternyata calon peserta umroh malah dijual. Oleh karena itu, kalau mau umroh, khususnya perempuan, sebaiknya jangan berumur 18 tahun ke bawah. Juga tetap memegang paspor dan dokumen penting lainnya. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia yang semakin canggih. Ya, namanya juga manusia. Banyak akalnya.





Menurut data Organisasi International untuk Migrasi (IOM) tahun 2005 - 2010, peringkat pertama kasus perdagangan manusia di Provinsi Jawa Barat dengan korban 850 orang atau 22,76 persen, kemudian disusul Kalbar, 722 orang atau 19,33 persen.

Sedangkan urut ketiga, Jawa Timur sebanyak 461 atau 12,34 persen, disusul Jawa Tengah 428 orang atau 11,46 persen, Sumatera Utara 254 orang atau 6,80 persen, Nusa Tenggara Barat 237 orang atau 6,35 persen, Lampung 189 orang atau 5,06 persen, Nusa Tenggara Timur 163 orang atau 4,36 persen, Banten 81 orang atau 2,17 persen, Sumatera Selatan 72 orang atau 1,93 persen, Sulawesi Selatan 60 orang atau 1,61 persen, dan DKI Jakarta 61 orang atau 1,61 persen.

Sementara untuk perdagangan manusia internal atau domestik tertinggi di Kepulauan Riau 221 orang atau 32,08 persen. Provinsi Kalbar berada pada urutan keenam, yakni sebanyak 21 orang atau 3,05 persen.

Dahulu saya banyak berkecimpung menangani korban perdagangan manusia yang cukup merepotkan. Artinya, saya justru menangani para korban. Sekarang saya cenderung memilih pencegahan dengan kampanye berbentuk penyadaran kaum perempuan agar tidak terjebak dalam lingkaran tersebut. Artinya, sebelum menjadi koban, kita berusaha mencegahnya. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

Pendidikan. Yap! Itulah bentuk pencegahan yang saya pilih sekarang. Melalui pendidikan, saya dan teman-teman dari Departemen Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kementrian Pendidikan Nasional bisa melakukan kampanye anti-perdagangan manusia. Dengan pendidikan, kita bisa memberikan penyadaran, agar generasi penerus tidak berkeinginan menjadi TKI.

Belum lama ini, saya pergi ke Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Menurut data OIM, Provinsi Kalbar sudah berada di peringkat dua dalam kasus perdagangan manusia menurut. Bahkan sempat berada di urutan pertama. Itu bukan prestasi yang patut dibanggakan, lho.




Memang sih cuma transit bukan daerah yang menduduki peringkat pertama dalam perdagangan manusia seperti di Jawa Barat, tetapi manusia-manusia yang ingin “dijual” atau “didagangkan” pasti menggunakan fasilitas di tempat transit tersebut, entah itu penginapan atau kendaraan. Jadi hal tersebut harus tetap kita waspadai dan masyarakat perlu mencegah praktek perdagangan manusia di tempat transit ini.

Tahukah Anda mengapa Provinsi Kalbar rawan dijadikan jalur transit perdagangan manusia? Sebab, Kalbar memiliki lima kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia, yakni Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu. Apalagi panjang perbatasan darat Kalbar - Sarawak sepanjang 875 kilometer mulai dari Kabupaten Sambas hingga Kapuas Hulu, dan puluhan jalan tikus (jalan setapak) yang sering dijadikan jalur ilegal.

Nah, sekarang Anda jadi tahu, bahwa baik jalur transit maupun daerah asal perdagangan manusia sama-sama bermasalah. Jadi, mari kita bersama-sama mengatakan SAY NO TO TRANSIT TKI!

Sabtu, 14 Agustus 2010

YUK! KITA MENDONGENG!

Kapan terakhir kali Anda mendongeng pada anak? Bagi keluarga sibuk, pertanyaan tersebut pasti bikin stres. Sebab, jangankan menyempatkan waktu membacakan cerita pada anak, terkadang mencuri waktu untuk istirahat di antara kesibukan pun rasanya sulit diwujudkan, ya kan?

Padahal anak-anak tidak butuh kesibukan Anda. Memang, kesibukan Anda bermuara pada keluarga. Bahwa bisnis atau pekerjaan yang Anda lakukan semata-mata demi menghidupi keluarga, termasuk anak-anak. Tapi barangkali Anda lupa, anak-anak tidak mengerti itu. Yang anak mengerti adalah orangtua mereka memiliki personal relationship atau tidak. Nah, salah satu personal relationship antara orangtua dan anak dengan cara mendongeng.











Seru banget! Acara di Gramedia Matraman, Sabtu (14/8) kemarin.

Mendongeng atau bercerita merupakan sebuah kegiatan yang biasa dilakukan sejak zaman dahulu kala. Tujuan mendongeng adalah menanamkan moral budi pekerti kepada anak-anak melalui cerita, entah itu cerita via lisan maupun melalui buku bacaan.

Di zaman modern seperti sekarang ini, sepertinya aktivitas mendongeng yang dilakukan oleh orangtua sudah lama hilang. Televisi menggantikan aktivitas ini. Anak-anak dibiarkan “didongengi” oleh media elektronik itu. Padahal aktivitas mendongeng di era globalisasi dan modernisasi ini masih sangat relevan alias tidak ketinggalan zaman. Apalagi pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan tentang character building. Nah, mendongeng bisa dijadikan sebagai alat atau sarana menyampaikan pesan moral dan hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai positif kehidupan, tentunya dalam membentuk karakter seseorang, dalam hal ini anak-anak.


Teman-teman dari KPBA sedang mendongeng dengan salah satu teknik mendongeng yang kreatif.

Itulah kenapa mendongeng tetap penting. Mengingat pentingnya peran dongeng dalam pendidikan anak-anak, Grasindo bekerja sama dengan Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) mengadakan workshop yang diberi judul: Mastering Your Storytelling Skill. Keren kan?

Dalam workshop ini, peserta akan diajarkan bagaimana kiat agar kita dapat mendongeng dengan baik? Lalu bagaimana memilih buku dongeng yang sesuai dengan anak-anak? Kemudian bagaimana menyampaikan dongeng dengan alat peraga? Serta banyak pertanyaan seputar kegiatan dongeng anak akan dikupas tuntas. Oh iya, untuk workshop ini, Grasindo dan KPBA tidak tanggung-tanggung membawa pakar dongeng kelas dunia, yakni Dr. Margaret Read MacDonald. Sementara dari Indonesia akan menghadirkan Dr. Murti Nunanta, Ahli Sastra Anak dan Penulis Anak yang dikenal juga sebagai Direktur KPBA.

Sebelum workshop yang rencananya akan diselenggarakan pada Kamis, 19 Agustus 2010 di Gd. Kompas Gramedia Lt 7 itu, saya diminta menjadi MC di acara promosi workshop Mastering Your Storytelling Skill ini di Gramedia Matraman pada Sabtu, 14 Agutus 2010 kemarin. Wah, acaranya seru banget! Ada Pak Reden yang mempertunjukan kebolehannya bercerita dengan cara menggambar di whiteboard. Ada pula teman-teman dari KPBA yang juga memperlihatkan gaya mendongeng dengan kreatif, yakni dengan menggunakan gulungan kain, dimana di kain tersebut sudah dibentuk gambar-gambar sesuai cerita. Ketika bercerita, ada pemain musik yang mengiringi pendongeng.



Saya dan Dr. Margaret Read MacDonald, diapit oleh dua peserta anak yang hadir Sabtu kemarin: Anjani (kiri) dari SDN RSBI 12 Rawamangun dan Khaira(kiri)dari SD Islam At-Taqwa Rawamangun, Jakarta Timur.

Saya senang sekali dengan workshop yang akan dibawakan oleh Dr. Margaret ini. Pasti peserta akan belajar banyak dari sang ahli. Sekadar info, Dr. Margaret itu dikenal sebagai Ahli Dongeng asal Amerika Serikat. Ia mengajar storytelling di University of Washington Information School and Lesley University. Ia meraih dua gelar Master. Yang pertama Master of Educational Communications dari University of Hawaii dan yang kedua Master of Library Science dari University of Washington. Sementara gelar PhD-nya di bidang folklore diraih dari Indiana University.

Selama ini Dr. Margaret sudah melalanglang buana ke seluruh dunia untuk memberikan workshop mengenai storytelling. Perjalanan perempuan yang sudah menulis 55 buku anak ini dikasih nama Storytelling Tours. Negara-negara yang pernah mendapatkan ilmu storytelling-nya antara lain Australia, New Zealand, Borneo, China, Hong Kong, Japan, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand; Brazil, Argentina, Cuba, Austria, Republik Cekoslovakia, Perancis, Jerman, Hungaria, Luxemburg, Polandia, Republic Georgia, Kenya, Spanyol, Mexico, dan kini mampir ke Indonesia.


Pak Raden sedang mendongeng pada anak. Saya kagum dengan semangat beliau. Tetap semangat mendongeng.


Ternyata mendongeng itu bukan aktivitas jadul, tetapi masih cocok sampai kini. Banyak kreativitas yang muncul dalam mendongeng. So, sudah saatnya kita mendongengkan kembali pada anak. Anak-anak jangan sampai terlalu banyak didongengi oleh televisi dan film. Media visual tersebut bukanlah teman anak sesungguhnya. Kita sebagai orangtua lah yang wajib menjadi teman. Dongeng adalah salah satu bentuk pertemanan kita pada anak. Bukankah kita sayang pada anak-anak? Yuk kita mendongeng!

all photos copyright by Brillianto K. Jaya